Reportase Sulut - Hampir sebulan
ini, Pemerintah Kota Bitung melakukan pemangkasan dan penebangan pohon
diberbagai titik jalan, yang termasuk dari pintu masuk Kota Bitung sampai
ujungnya, dengan alasan melakukan penataan terhadap pohon yang dianggap
mengganggu dan membahayakan kepada masyarakat yang terutama pengguna jalan.
Pemangkasan
serta penebangan pohon yang diperintahkan oleh Walikota Bitung melalui seluruh
perangkat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yakni Camat, Lurah, Pala dan RT
dimasing – masing Kecamatan, mereka – mereka inilah yang tidak sayang akan
tumbuhan hijau, seharusnya mereka menyadari bahwa tumbuhan juga perlu hidup,
butuh dilindungi dan juga dirawat, bukan dimusnahkan.
Kota Bitung yang
kemarinnya dikenal dengan kota sejuk akan banyaknya pohon – pohon hijau, kini
menjadi kota gersang, dimana pohon – pohon besar tempat orang berlindung akan
hujan dan panas akhirnya menjadi sasararn pemerintah Kota Bitung dengan cara
digunduli, sampai – sampai bikin arus lalu lintas menjadi macet dan mengenai
tempat kios milik warga Madidir Unet yang bernama Muklis Murtato, yang sampai
saat ini belum juga ada ganti rugi.
Pemangkasan dan penebangan pohon yang terus
menerus dilakukan oleh Pemkot Bitung menjadi buah bibir bagi masyarakat, yang
timbul pembicaraan seperti, “kiapa kang ini amper samua pohon yang basar dorang
potong – potong, padahal kalau torang masyarakat yang biasa yang potong pasti
dapa marah deng dapa denda, noh kalau perintah yang potong sapa dang yang
barani marah padorang, apa lantaran dorang yang berkuasa kong seenaknya main –
main potong seperti itu??”.
Slogan pemerintah Pemkot Bitung, “Hidup Sehat
Ramah Lingkungan” yang seharusnya mendukung serta merawatnya malahan dibikin
seperti ini. Apalagi dari pengecekan Reportase Sulut dibeberapa jalan Kota
Bitung, ditemukan ada kabel listik dan kabel telefon sudah terurai akibat dari
pemangkasan dan pemotongan pohon, justru seperti inilah yang bisa berbahaya
bagi masyarakat pengguna jalan serta pejalan kaki.
Komentar